Nasib Perokok Pasif..
Nasib perokok pasif yang alergi asap rokok.
Sengsara setengah mati kalau bertemu perokok yang raja tega.
Seperti yang saya alami beberapa hari lalu di stasiun S-Bahn Langenfelde, saat hendak ke dokter saya di Altona.
Suhu udara yang nyaris nol membuat gerimis hampir mengkristal jadi salju.
Pagi itu masih agak gelap dan dingin.
Saya
bergabung dengan hampir semua penumpang yang memilih menunggu S-Bahn
sambil meringkuk dan berjejal bersama di bawah naungan atap stasiun
daripada menantang angin dingin di kulkas terbuka.
Termasuk bersama dia....
Seorang
wanita yang saya taksir seumuran dengan saya, sambil gemetar kedinginan
menghisap rokoknya. Saya tahu dia menghindari jangkuan sensor kamera
pengawas karena sebenarnya Stasiun S-Bahn adalah daerah bebas rokok.
Di
detik pertama hingga detik ke lima puluh lima, saya masih berusaha
bertahan berada di sana sambil menutupi hidung dengan saputangan.
Tapi saya tak tahan.
Asap rokok bukan asap nasi dari beras pandan wangi yang mengepul dari bakul.
Asap
rokok membuat paru-paru saya mendadak menjadi seperti senapan mesin
yang mengerikan, memuntahkan tembakan amunisi-amunisi batuk yang tak
dapat dihentikan, tanpa ampun membuat saya menghamburkan semua energi
yang saya punya untuk memompa dada tanpa sedikitpun niat untuk
melakukannya dengan sengaja.
"Duhai nona...teganya dirimu tetap merokok walau melihatku menggelepar hingga kedinding bersandar" tangis saya dalam hati.
Sungguh
nona berjaket putih itu menatap saya tanpa welas asih, sambil
menyeruput kopi dari tangan kirinya....ia pun menyedot rokoknya dalam
dalam dan menghembuskannya ke udara.
Akhirnya saya mengalah..saya menggelandangkan kaki saya keluar agar jauh dari asap rokok sang nona.
Pedih....
...pedihnya
bagai jika rongga pernafasan saya berambut lalu rambut-rambut itu
dibubuti satu persatu hingga permukaannya seperti unggas yang dibotaki
secara paksa hidup-hidup..(weits..khayalan dramatik nan sadistik)
Dengan tenggorok yang masih perih pedih dan mata berair jangan harap saya bisa berpikir jernih.
O...rasanya saya ingin sekalian berguling-guling di lantai peron karena kesal...
Tapi saya kesal, bukan gila.
Jadi saya urungkan saja niat mengotori pakaian saya dengan debu stasiun.
Lebih baik saya keluarkan kamera untuk menghibur hati....
Salah satu gambar yang terjepret adalah gambar di samping ini.
Saat S-Bahn datang para penumpang mulai bermunculan keluar dan bersiap berjajar di peron stasiun kecil itu.
Nona berjaket putih itulah yang hari itu membuat saya sekali lagi hampir tergoda untuk merutuki nasib saya....
Nasib seorang perokok pasif yang tak mungkin juga beralih jadi perokok aktif.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sungguh saya tak ingin mengganggu kesenangan teman-teman yang merokok.
Namun
ijinkanlah saya meminta sedikit belas kasihan teman-teman sekalian
untuk orang-orang dengan paru-paru yang berkemampuan terbatas.
Dengan segala kerendahan hati saya memohon teman-teman yang perokok untuk tidak merokok di daerah yang seharusnya bebas rokok.
Karena orang-orang seperti saya biasanya bergantung pada tempat-tempat seperti itu..

hukshukshuks, nasibmu naaaaaak....
*geram sama tu orang... arrrrrgh*
Kommentiert von: ess | Januar 15, 2008 04:56 vorm.